Selasa, 19 Februari 2013

Pariwisata: Pilar Ekonomi Raja Ampat

Anyaman daun pandan pantai kering buatan Maria Fakdawer (56) mulai membentuk pola bintang segi enam pada bagian dasar bayai atau tempat menyimpan sagu. Nanti, jika sudah berwujud, bayai itu akan dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke kampungnya sebagai suvenir khas Raja Ampat. “Pariwisata lebih kami kembangkan karena manfaatnya jangka panjang dan tak pernah habis,” kata Bupati Raja Ampat, Drs. Marcus Wanma, M.Si kepada wartawan di Waisai belum lama. Dulu, produk kreatif, seperti bayai, topi, snat (tikar), kotak pinang, kabulin (koper tradisional), dan piring anyaman, hanya dipakai sehari-hari. Tapi, tiga tahun terakhir, barang-barang itu malah bernilai ekonomi karena diburu turis asing. Untuk bayai dijual berkisar Rp 50.000-250.000, sedangkan topi durian gelombang dijual Rp 200.000 per buah. ”(Pengerjaan) Satu topi butuh waktu empat hari membuatnya. Kalau bayai dua hari saja. Sebulan, mama bisa menjual tujuh topi, atau dapat Rp 1 juta,” ujar Maria, di area pameran Pantai Waisai Tercinta di Festival & Travel Mart Raja Ampat 2012. Hampir semua ibu rumah tangga di Kampung Arborek dan Sawinggrai membuat kerajinan anyaman. Di kampung lainnya memproduksi kerajinan tempurung kelapa, kerang, anyaman lidi kelapa, dan ukiran kayu yang dikerjakan kaum laki-laki. Menurut Novalin Patimuhai, Ketua PKK Distrik Meosmansar, penghasilan keluarga tak lagi bergantung pada tangkapan ikan. Meski hasilnya tidak besar, penjualan kerajinan mampu menutupi kebutuhan biaya sekolah anak. Usaha kreatif skala rumahan itu kian berkembang setelah Pemerintah Kabupaten Raja Ampat menjadikan pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian daerah. Pilihan itu karena besarnya potensi alam bahari, keragaman tradisi budaya, dan perjalanan sejarah di gugusan pulau di kabupaten yang 80 persen wilayahnya adalah laut. Mulai 2008, sebagai kabupaten yang baru terbentuk tahun 2003, Raja Ampat getol membangkitkan industri pariwisatanya. ”Meskipun kami punya potensi pertambangan, bukan itu yang diunggulkan. Pariwisata lebih kami kembangkan karena manfaatnya jangka panjang dan tak pernah habis. Dampak industri pariwisata ini multisektor,” jelas Marcus Wanma. Pengembangan industri jasa pariwisata dilakukan di empat pulau besarnya, Pulau Waigeo, Misool, Batanta, dan Salawati, serta kepulauan kecil-kecil di sekitarnya. Sederet cara dilakukan Pemkab Raja Ampat, mulai dari pembangunan bandara yang dilakukan bertahap sejak tahun 2008 di daerah Waiwo, perbaikan jalan, penyediaan listrik, hingga kampung wisata. Dalam mendukung sector pariwisata, pemerintah daerah telah membangun bandara. Bandara yang diberi nama Bandara Marinda tersebut telah dirermiskan Menteri Perhubungan pertengan 2012 lalu, dan rencananya awal 2013, yakni bulan Peberuari 2013 akan didarati pesawat perintis yang secara reguler masuk di Raja Ampat. “Kontrak untuk pesawat perintis masuk di Bandara Marinda sedang berlangsung di Manokwari. Ada dua kemungkinan yakni merpati air atau susi air. Siapa pun yang menang tender yang jelas nantinya pesawat perintis akan masuk dua kali seminggu di bandara Marinda,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Raja Ampat, Ir. Becky Rahawarin,MM. Kampung wisata Strategi jitu lainnya, membangun kampung wisata di kampung-kampung yang punya potensi keindahan alam laut, pantai, dan fauna di hutannya. Kini, sudah ada lima kampung wisata, Yenwaupnor, Arborek, Yenbuba, Sawinggrai, dan Sawandarek, dan rencananya akan terus ditambah. Keberadaan kampung wisata menjadi aktualisasi keterlibatan langsung masyarakat sebagai operator dan penyedia jasa wisata. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreati, Ir. Yusdi Lamatenggo menjelaskan, pemerintah ingin masyarakat berperan dalam industri ini, sehingga kesadaran harus dibentuk dan dimulai dari kampung. Dampak pariwisata tak dapat langsung terlihat, tetapi bersifat ikutan. ”Memang tidak gampang mengubah pola pikir masyarakat nelayan. Namun, sedikit demi sedikit masyarakat mulai menyadari pariwisata adalah potensi terkuat Raja Ampat,” ujarnya. Perlahan namun pasti, industri pariwisata kian berkembang di Raja Ampat. Dua tahun lalu, turis asing yang datang hanya sekitar 2.000 orang, tapi tahun 2010 mencapai 3.855 orang. Untuk tahun ini, sampai Oktober, sudah mencapai 6.000 orang. Wisatawan asing umumnya berkunjung pada akhir tahun, yakni Oktober-Desember. Indikator lainnya, bertambahnya penginapan dari semula satu resort kini menjadi tujuh resort dan lima home stay di kampung wisata. Demikian juga jumlah kapal pesiar, alternatif wahana eksklusif menikmati Raja Ampat, meningkat dari 12 kapal menjadi 36 kapal dalam waktu tiga tahun. Tahun lalu, sebanyak 568 turis berwisata dengan kapal pesiar mengitari perairan Raja Ampat. Namun, sumbangan industri pariwisata belum signifikan terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Raja Ampat. Sebab, pemda belum mengoptimalkan pendapatan dari pajak hotel, rumah makan, pajak orang asing, serta pajak investor asing yang berusaha di wilayahnya. Tahun 2010, pendapatan yang dihitung dari penjualan PIN, yakni bukti retribusi wisata, sekitar Rp 1,2 miliar atau 0,2 persen dari total PAD kabupaten, Rp 653 miliar. Yusdi mengakui, pemda juga belum menghitung nilai ekonomi dampak ikutan dan perputaran uang akibat berdenyutnya industri pariwisata Raja Ampat. Retribusi PIN masih dijadikan andalan untuk PAD sektor pariwisata. Dari retribusi Rp 500.000 bagi turis asing, sebesar Rp 150.000 masuk PAD, sisanya diperuntukkan kegiatan konservasi (40 persen), pemberdayaan masyarakat kampung wisata (40 persen), dan operasional usaha pariwisata daerah (20 persen). Bagi turis domestik, retribusinya Rp 250.000. Komitmen Sebagai Bupati, Marcus Wanma terbilang berani mengambil risiko sekaligus cerdik. Keindahan alam bawah laut di perairan Papua sebenarnya merata, tapi Marcus lebih sigap mempromosikan lebih awal Raja Ampat sebagai tujuan wisata bawah laut. Pemda juga berani membuat acara promosi wisata dengan biaya Rp 3,4 miliar. Dengan komitmen menghidupi 42.508 penduduknya di 24 distrik, dia yakin pariwisata menyejahterakan daerahnya. Untuk mewujudkan industri pariwisata bahari, pemda punya komitmen jangka panjang. Dengan menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 4 Tahun 2011 tentang pengembangan wisata selam rekreasi Raja Ampat, dan Peraturan Bupati Nomor 3 Tahun 2011 tentang tata cara pendaftaran usaha pariwisata. Kedua aturan ini jadi acuan pengelolaan usaha kepariwisataan yang akan memberikan kontribusi PAD dan menciptakan iklim investasi kompetitif. Dalam peraturan itu juga dibahas tata cara menyelam, syarat lokasi selam, aturan keselamatan menyelam, peredaran kapal wisata di Raja Ampat, pelestarian lingkungan, dan sanksi bagi operator wisata yang melanggar. ”Mungkin kami satu-satunya kabupaten yang sudah punya peraturan tentang rekreasi selam dan wisata bahari,” ujar Yusdi. Semoga komitmen ini terus terpelihara sehingga tak tergoda dengan pertambangan. (Petrus Rabu)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar